Mengusung tema “Pemetaan Sistem Pertanian Berkelanjutan Berbasis Analisis Spasial”, mahasiswa membuat delapan pemetaan yang menggambarkan kondisi pertanian Glapansari secara lebih lengkap.
Salah satu temuan yang cukup menarik adalah menyusutnya lahan pertanian sekitar 6,27% pada periode 2020–2025. Sebaliknya, area terbangun meningkat 0,83%. Data ini menjadi sinyal penting bagi desa untuk lebih serius menjaga lahan pertanian yang masih tersisa.
Mahasiswa juga memetakan persebaran berbagai komoditas unggulan seperti tembakau, cabai, bawang merah, bawang putih, dan kopi. Data tersebut kemudian digunakan untuk menyusun zonasi pertanian berdasarkan kondisi lahan dan karakteristik ekologis.
Tidak berhenti di lahan, jalur distribusi hasil panen juga dipetakan. Sebagian besar hasil pertanian Glapansari ternyata dipasarkan ke Pasar Parakan dan Pasar Temanggung melalui tengkulak.
Dari sisi petani, kebutuhan yang cukup mendesak adalah akses jalan menuju lahan. Jalan usaha tani diharapkan dapat memperlancar mobilitas dan meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian.
Hasil pemetaan ini selanjutnya diserahkan kepada pemerintah desa agar bisa menjadi dasar perencanaan pembangunan yang lebih tepat, berbasis data, dan berkelanjutan



